dunia ayung

dua hari ngurusin project SPT beduaan ama bapak senior manager ngebuat kangen kerja di meja sendiri..

kapan tuh SPT bakal kelar? SPT oh SPT,kehadiranmu yang setiap tahun dan agaknya akan menjadi project tahunan ke bersama bapak senior manager keliatannya akan ngebuat punggungku terasa pegel yang teramat dahsyat gara2 liatin deretan data kamu di excel yang naujubilah kecil2 dan buanyaaaknyaa..

oh kekasihku yang lain(kalim jamsostek,simas,manulife),pending dulu ya dating kita..

miss u all..


seandaimya kamu tau,seberapa besar rasa keilangan yang aku alamin dan bahkan keluarga besar aku alamin.


curhat ama temen tentang hal yg sama, dia bilang:

yu,bahagia sama sedih itu satu paket.. kalo lo sedih,sadar deh kbahagiaan bakal hadir buat lo..tapi tergantung diri lo yu, lo mau ga bahagia? kalomau,berubah sekarang.. gw ngerti perasaan lo sekarang gmna,gw juga ngerti lo bukannya ga usaha buat nerima semua keadaan yang sebenernya lo blom siap nerimanya, gw jugatau kok usaha lo buat bisa ga fokus atau minimal ga inget sama masalah perasaan lo. tapi gw bisa apa yu buat bantu lo? ga bisa buat apa2.. paling gw cuma bisa nemenin lo kaya sekarang ini,paling gw cuma bisa dengerin curhatan supaya lo bisa ngerasa lega setelah curhat sama gw, paling gw juga cuma bisa ngasih nasehat yang mungkin nasehat yg gw omongin k lo,lo sering denger dari orang2 yang lo curhatin.. selebihnya,gw ga bisa ngapa2in yu.. mungkin gw bisa ngeringanin beban lo,tapi cuma sementara.. gw yakin kalo lo lagi “ngemanjain” diri lo dengan ngarepin dia yang ga pasti,lo bakal ngalamin kondisi yang sama kaya gini,labil,gampang sedih.. lo sadar ga si yu,gw sebagai tmn lo aja ga suka ngeliat lo terus2an kaya gini.. apalagi orang tua lo. yu, lo tuh bisa dapetin kbahagiaan dari banyak jalur.. percaya sama gw,kbahagiaan lo ga cuma berasal dari tuh cowo doang kok.. jangan sedih mulu,jemput kbahagiaan lo.. udah cukup banget yu buat lo diem ditempa kaya gini..  inget yu,yg harus lo pikirin ga melulu masalah cowo.. jangan cuma karna masalah cowo,masalah yg harusnya lo bisa handle sekarang2 ini jadi kganggu.. semuanya tergantung diri lo yu,mau apa ga.. kalo lo mau,gw yakin lo bisa.. masih ada gw,nyokap lo,kaka lo,sepupu2 lo kalo lo mau curhat karna udah mulai labil lagi.. kita semua siap ngejagain lo biar lo tetep berpendirian dan ga gampang labil.. yang harus lo tau,buat ngadepin masalah ini,lo ga sendirian yu..

gw,nyokap lo,bokap lo,dan semua orang yg sayang sama lo cuma pengen ngeliat lo bahagia..

———————

pentingnya arti sahabat..


jadi keinget dulu pernah ngerencanain masa depan bareng sama reza..

kaya udah serius banget hubungan kita.. tapi ternyata Allah nakdirin laen.

berusaha ikhlas,tapi kayanya belom bisa..

berisaha nerima keadaan tapi belom bisa..

berusaha adaptasi,tapi belom bisa.

semuanya masih gampang banget buat goyang.

besok,pas banget 1 bulan kita pisah..

ga tau butuh berapa bulan biar bisa ngejalanin hidup tanpa kegalauan..

semuanya terasa susah dan berat buat aku.


alhamdulillah

terima kasih

mama & papa


Ajariku Rahasiamu - Tangga


kan kutempuh segala cara
tuk sembuhkan rasa kecewa
ku belajar tuk berhenti mencintaimu
dan membunuh rasa ini

reff: ajariku cara melupakanku
agar ku tetap kuat tanpa pelukanmu
agar senantiasa kudapat jalani hidup tanpa cintamu
ajari aku rahasiamu

dulu kukira katamu sungguh
kan kita pelihara rasa cinta hingga akhir masa
ku belajar tuk menjaga dan saling percaya
namun kini tak berarti

repeat reff


sedang berusaha menata hidup yang baru, sedang berusaha mengadaptasi diri dengan adanya perubahan dalam hidup.

inilah cara adaptasi diri yang aku lakuin. aku pengen ga mau dganggu dulu sama dia yang udah nyebabin perubahan ini happened.

berusaha ga mau tau apapun tentang dia, berusaha buat ga tlp apa sms dia, berusaha buat ga ngefudulin dia..

tapi setiap gw buka fb,pasti d timeline nongol dia..

ya Allah,aku udah minta petunjukMu untuk hal ini, dan alhamdulillah Kau udah ngasih petunjuknya..aku nerima kok petunjuk yang Engkau kasih, nerima banget.. walau mungkin belom sepenuhnya nerima,tapi skarang ini aku lagi berusaha biar total nerimanya..
bantu aku ya Allah. Kuatin hati aku biar ga gampang goyang.. 


just share

“Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia. Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah. Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.” Kahlil Gibran

Namaku  Dewantara Alexandria. Orang-orang di sekitarku memanggilku dengan nama Tara. Aku sebenarnya lebih suka di panggil Alex ketimbang Tara. Alasannya karena Tara itu kesannya nama cewek. Aku 22 tahun dan saat ini aku menjadi seorang penulis lepas di beberapa majalah dan sekaligus aktivis sosial.

Aku kos di salah satu sudut pinggiran kota Jakarta. Bukan kos mewah. Hanya sebuah kamar ukuran 2×3 meter tanpa perabot sama sekali. Kata orang ada harga ada mutu. Aku sudah terbiasa tidur dengan keadaan berkeringat saking panasnya. Atau di tatap sinis sama ibu kos gara-gara telat bayar uang bulanan. Menahan lapar bahkan tidak makan berhari-hari adalah hal yang biasa bagiku. Yang penting bisa minum. Minum air sumur atau kran di toilet umum jika dalam keadaan terpaksa. Itulah penyebab kenapa aku jadi kurus. Kata teman-temanku kurus kering seperti ikang kering yang dijemur. Apa lagi kalau lagi dikejar deadline sementara ide di kepala lagi macet total seperti pemdandangan sehari-hari di kota Jakarta. Tapi aku menikmati semuanya itu. Wajahku pas-pasan. Hanya kata orang aku memiliki sorot mata yang tajam dan kulit sawo matang yang aku warisi dari ibuku.

Satu hal yang aku pelajari dari hidup ini adalah “hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan hanya untuk menerima sebanyak-banyaknya.” Itu alasan kenapa aku mau memutuskan untuk menjadi seorang aktivis sosial. Aku tidak terlahir dari keluarga yang mewah. Aku hanya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan penghasilan orang tuaku cukup hanya untuk makan sehari-hari. Aku memutuskan meninggalkan rumah ketika kedua orang tuaku tidak setuju dengan keinginanku untuk menjadi aktivis sosial.

“Kita ini bukan orang kaya, nak! Tapi kalau itu keinginannmu, lakukanlah.” ucap ibuku.

“Makan saja susah. Bagaimana mau menolong orang lain?” imbuh ayahku dengan tampang ketidak setujuannya.

“Tapi ini jalan yang Tara pilih, pa.”

“Tara, kamu itu pintar! Kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah.”

“Tara bisa menuntut ilmu dimana saja, pa. Tanpa harus kuliah. Percayalah, Tara ngga akan menyusahkan papa dan mama,” aku mencoba memberikan penjelasan.

Ruang tamu malam itu mendadak hening. Di luar sana rembulan tampak malu-malu memancarkan pesonanya.

“Kamu tinggal pilih. Kamu tetap mau menjadi aktivis sosial atau kerja sambil kuliah?”

Aku kaget dengan ucapan ayahaku. Aku tahu aku bisa kuliah sambil kerja dan sekaligus menjadi seorang aktivis sosial tapi aku belum tertarik untuk kuliah. Kerja? Sarjana aja banyak yang menganggur apa lagi aku yang hanya lulusan SMA? Hatiku sudah bulat untuk menjadi aktivis sosial.

“Jawab?” bentak ayahku dengan nyaring dan penuh ketegasan.

“Tara tetap dengan keputusan Tara untuk menjadi aktivis sosial,” ucapku sambil melihat ibuku yang tertunduk menahan air matanya.

“Kalau begitu, kamu bisa tinggalkan rumah ini. Malam ini juga!”

Bagaikan petir di siang bolong menyambar hatiku mendengar ucapan ayahku. Aku tahu ayahku tidak akan mengubah keputusannya. Aku tahu jika beliau sudah mengatakan A maka yang terjadi harus A. Hanya Tuhan yang sanggup mengubah keputusan itu. Mungkin satu-satunya kesamaan yang aku punya dengan ayahku adalah kami sama-sama keras kepala. Sepertinya hanya itu yang aku warisi dari ayahku. Selebihnya dari ibuku apa lagi bentuk fisik seperti warna kulit dan rambut lurus.

Aku beranjak meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar untuk mengemasi bajuku. Ibuku menyusul masuk ke kamar.

Dengan spontan aku memeluknya.

“Kamu mau tinggal dimana?”

“Ma, ngga usah kuatir, aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh doa mama. Hanya itu.”

“Besok, mama akan bilang apa kalau adik-adikmu mencari kamu?”

Aku melepaskan diri dari pelukan ibuku. Aku mengusap air matanya. Aku tidak ingin dia menangis meski aku sendiri berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.

“Katakan saja aku pergi untuk memenuhi panggilan hidupku.”

“Kamu dan papamu sama-sama keras. Mama tidak bisa meluluhkan hati kalian berdua.”

Aku kembali memeluk ibuku. Setelah puas aku mengemasi pakaianku seadanya. Aku membuka lemari pakaian yang sudah tua dimakan rayap. Disana hanya tergantun seragam SMAku yang penuh coretan dan 2 kaos oblong serta satu celana jeans. Di sisi lainnya hanya ada pakaian sehari-hariku yang bisa dihitung jari. Aku memasukan semuanya itu ke dalam ranselku yang warnanya sudah luntur.

Ibu hanya duduk lesuh di ranjangku. Aku menghampirinya.

“Mama jangan sedih ya! Tara janji akan membuat mama bahagia. Mama akan tersenyum dengan pilihan hidup Tara. Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang. Merebut kemenangan di mana pun adanya. Aku akan pergi untuk kembali, ma.  Janganlah menangis. Biar kucari jalanku sendiri.”

“Mama percaya dengan kamu Tara,” ucap ibu lalu menanggalkan satu-satunya perhiasan yang dia punya. Cincin yang selalu dikenakannya. Cincin yang aku sendiri tidak tahu sejak kapan dia memakainya.

“Mama hanya punya ini. Ambillah. Kamu bisa menjualnya untuk kebutuhanmu. Mama tidak punya uang. Hari ini untuk makan saja, mama harus pinjam sekaleng beras dengan tetangga. Pesan mama, bukan seberapa besar yang bisa kita beri kepada orang lain tapi seberapa besar hati kita pada waktu memberi dan melakukan sesuatu.”

Aku memeluk erat ibuku kembali. Pelukan yang sampai hari ini masih terasa. Pelukan seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang. Pelukan seorang anak kepada ibunya. Ibu yang pernah berjuang mati-matian untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Ibu yang selalu dan selalu berusaha membelikan aku dan adik-adikku kue kecil di setiap momentum penting. Ibu tidak pernah kekurangan akalnya, bagaimana di setiap ulang tahun kami ada kue kecil sebagai pengganti kue ulang tahun.  Ibu berusaha menghemat sekuat tenaga uang dapur yang ada. Ah… Ibuku memang kreatif. Apa lagi kalau merangkai kata-kata indah. Kata-kata yang menjadi cambuk bagiku untuk terus maju meski dalam keadaan terpuruk sekali pun.

Aku masih ingat ketika pulang sambil mennagis karena nilau ujianku merah. Ibu hanya berkata, “Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini,yang ada hanya orang yang pintar dan belum pintar. Nilai bukan segalanya tapi  bagaimana kamu berusaha sebisa kamu. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.Ada yang pintar dan ada yang belum pintar.Dan penddikan bertugas mengubah yang pintar menjadi lebih  pintarSerta yang belum pintar menjadi pintar.”

“Malam ini Tara akan nginap di rumah Marcel. Besok Tara akan cari kos.”

“Sudahlah. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin mama. Burung pipit pun tahu kalau dia harus tetap bisa hidup sekalipun harus mematuki sisa padi di lumbung sang petani. Mau atau tidak mau ,hidup ini ada untuk dihidupkan. Oleh karena itu kamu hidup dengan bernafas, maka hidupkanlah nafasmu.”

Hati kecilku terasa perih. Aku tidak punya handphone lagi. Aku menjualnya dua hari yang lalu untuk biaya sekolah adikku. Handphone yang aku dapatkan sewaktu menang menulis cerpen di salah satu majalah remaja terkenal. Bagaimana aku bisa mengabarinya kalau ada apa-apa? Dan bagaimana dia akan menghubungiku kalau ada apa-apa di rumah?

Beliau diam. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan namun penuh semangat dan kekuatan.

“Buktikan pada dunia termasuk papamu.  Kamu adalah sang pemimpi sejati. Ayunkan kakimu untuk mencoba meraih khayalanmu yang tertinggi. Kamu adalah pejuang hidupmu  yang suka resiko. Kamu harus tahu, hidup ini penuh resiko  dan tantangan. Ibu ingin melihat kamu merubah mimpi dan hayalmu menjadi realita yang menjadi karya abadi. Bukan imajinasi juga gambaranmu semata. Ibu percaya kamu bisa, Tara. Jika hatimu terasa gundah maka berbaringlah dalam kesunyianmu. Jika hatimu tak lekas cerah maka pejamkan matamu dan tidurlah. Bawa dirimu terbang dan melayang dalam indah dunia mimpi. Pejamkan dan bawa dirimu ke alam mimpi. Ketika kau telah sampai di alam mimpi, melayang dan bergembiralah di sana.Bermainlah  dengan peri-peri kecilmu. Jika kamu telah lelah bermain. Jika hatimu telah riang, buka mata dan bangkitlah dari mimpimu karena ada orang-orang yang menantimu untuk merasakan belai kasihmu. Jangan pernah sia-siakan dunia ini kosong tanpa sentuhan hangat darimu, Tara.”

Aku sangat suka sewaktu aku kecil ibu selalu memotivasiku dengan cerita dongengnya. Ketika aku beranjak dewasa, ibu selalu menguntai kalimat indah dari bibirnya sebagai pengganti dongeng sebelum tidur.

Selesai mengemasi semua pakaian, aku beranjak ke ruang tamu di temani ibu. Aku ingin pamit dengan papaku. Tapi belum sempat aku menghampirinya, beliau langsung beranjak pergi meninggalkan rumah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku berusaha untuk tegar. Aku memasuki sebuah kamar di mana adik-adikku tidur dengan berdesak-desakan. Ada Sastra, Agnes dan si kecil Moses. Aku menatap wajah mereka satu persatu. Wajah polos yang tak berdosa.

“Aku selalu merindukan, mama,” ucapku lirih ketika mencium dahinya yang penuh kerutan untuk pamit.

“Kalau kamu merasa lelah dan tak berdaya dan saat segala usaha sepertinya sia-sia. Tuhan tahu, kamu sudah berusaha. Ketika kamu lelah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih. Tuhan telah menghitung air matamu. Jika kamu tahu bahwa kamu sedang menunggu sesuatu namun waktu serasa berlalu begitu saja. Tuhan juga sedang menunggu bersama denganmu, bersama berjalannya waktu. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri sementara orang-orang terlalu sibuk dengan diri masing-masing. Tuhan selalu berada di sampingmu, menemanimu. Ketika kamu pikir bahwa kamu telah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi, bersabarlah. Tuhan pasti punya jawabannya. Saat hatimu terasa tertekan, akal dan pikiranmu tak dapat menerima segalanya. Tuhan akan menenangkanmu. Saat kau dapat melihat secercah harapan yakinlah, saat ituTuhan sedang berbisik kepadamu. Saat kamu ingin bersyukur,sebelum kata syukur itu terucap, Tuhan telah menerima syukurmu. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kamu tersenyum dengan apa yang terjadi. Tuhan sedang tersenyum padamu. Ketika kamu memiliki tujuan dan mimpi untuk dipenuhi. Tuhan sudah membuka matamu dan dengan memanggil namamu. Ketika kamu terlupa dan berpaling, Tuhan tetap mengingatmu. Ketika kamu sadar dan ingin kembali, Tuhan akan selalu menerimamu. Seperti itulah juga ibu kepadamu, Tara.”

Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan kalau aku terlahir di keluarga yang pas-pasan. Aku justru bersyukur. Meski keluargaku tidak memiliki harta yang mewah tapi setiap hari kami masih bisa bersyukur dan tetap bersukacita. Untuk apa memiliki harta kalau itu ternyata didapatkan dari cara yang tidak benar?

Dari ibuku aku belajar tentang arti memberi dan berkorban.

“Yang membedakan antara memberi dengan berkorban adalah rasa sakit. Ketika kamu memberi dan itu terasa sakit maka itulah yang namanya pengorbanan. Orang yang memberi belum tentu berkorban tapi mereka yang berani berkorban adalah mereka yang memberi dengan cara yang terbaik.” Itulah jawabannya dulu, ketika ku menanyakan tentang perbedaan antara memberi dan berkorban.

Dengan langkah yang pasti aku melangkah meninggalkan rumahku. Dari jalan setapak, aku memalingkan wajahku. Di rumah tua itu aku melihat lambaian dan senyuman ibuku. Lambaian tangan dan senyuman yang tak akan pernah aku lupakan sampai hari ini.  Aku memantapkan langkahku dengan sebuah itikad di hatiku, “Sudah saatnya aku berani berdiri tegak pada kehidupanku dan bukan saatnya lagi aku merengek pada susah kehidupanku. Sudah saatnya aku pilih jalan berjuang  bukan bertahan. Itulah artinya HIDUP.”

Ibuku adalah penopang dikala aku rapuh, rujukan dikala semuanya suram. Hanya tangisku sebagai saksi atas rasa cintaku padanya.

Dalam setiap malam ada doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa untuk ibu.

“Berilah ibu balasan yang sebaik-baiknya atas didikan dan kasih sayang yang ibu limpahkan untukku. Lindungi dan peliharalah ibu sebagaimana ibu melindungi dan memeliharaku. Ya Tuhan, setiap penderitaan yang telah ibu rasakan akan Engkau perhitungkan untuk memberkatinya. Dalam tangan-Mu yang agung. Aku menyerahkan ibuku ke pada-Mu yang telah menciptakanku dan Ibu dari debu tanah. Amin.”

TAMAT


gw putusin mule hari ini gw bakal lebih egois buat kebahagiaan hidup gw..

singkirkan urusan2 yang bakal ngeganggu kebahagiaan hidup gw..

utamakan hal2 yang bisa ngedukung kebahagiaan hidup gw..

yang lalu biar aja berlalu.. 

jadiin pembelajaran hidup..

natap kedepan,jangan sedih lagi..

gw berhak bahagia..

keluarga gw berhak bahagia dengan liat gw bahagia..

temen2 gw juga berhak bahagia dengan liat gw bahagia..

so,buat kebahagiaan orang2 yang sayang sama gw dan gw sayang sama mereka, gw musti rubah sikap..

singkirin kesedihan..

sambut kebahagiaan..

dengan restu dan izin-Mu ya Allah,saya siap menyongsong kebahagiaan..

:)


sekitar jam 4an gw dapet tlp dari sheila.

sheila:halo assalamualaikum

gw:waalaikumsalam

sheila:ini ayu ya?ini sheila

gw:oh iya,knapa ya?

sheila:ayui,disini sheila mau klarifikasi,aku sama reza bener2 cuma temenan doang kok

gw:iihh gapapalagi mba,kalo mba mau nerusin juga. aku sama dia udah bener2 selese kok

sheila:bukan gitu yu,maaf sebelumnya kalo chattingan aku sama reza malah ngebuat hub kalian berantakan. itu tuh cuma bercandaan doang yu

gw:kayanya ga mungkin deh mba kalo cuma bercandaan..aku juga punya sahabat cowo,tapikalo chattingan juga biasa2 aja..kalo mau becanda juga paling ngebahas kejadian yang lucu aja.kalo mba kan beda ya,udah masuk banget ke bagian pribadi.

sheila:iya yu,maaf kalo becandanya kelewatan. tapi reza kan d kantornya temennya cowo semua ya yu,jadi biasanya temennya mba yang ngajak aku.

gw:tapi aku liat,dia ngechat mba ada yang jam 10-11 malem loh,itu kan ga mungkin ada d kantor..yang hari sabtu minggu juga ada..kan ga mungkin mba..

sheila:iya akuminta maaf,tapi beneran itu cuma becandaan aja..reza masih bener2 sayang kok ama ayu..jadi gmna yu?

gw:gmana apanya ya?

sheila:keberlanjutan hub kalian

gw:(dalem hati:ini urusan gw ama reza kali) ya ga tau ya mba,tadi mama juga kan udah baca chattingan mba sama reza,mama langsung nile reza yang negatif..jadi aku juga belom bisa mutusin tuh..

sheila:ooh gitu ya,kalo gitu aku blh ngomong ama mamanya ga yu?

gw:bentar ya.

———————

mama ngomong sama sheila,kurang lebih tuh cewe ngomongin hal yang sama kaya apa yang d omongin ke gw..

sukurin lo,di ocehin ama emak gw..

——————-

gw:iya

sheila:iya yu,tadi udah aku jelasin k mama ayu,jadi ga mungkin boong kan?masa ortu berani aku boongin.jadi gmana yu?

gw:masih belom tau kedepannya kaya gmana,yang jelas sekarang ini hub aku sama reza udah selese..

sheila:ya aku jadi ga enak nih

gw:gapapa lagi mba..

sheila:yaudah,kalo boleh aku saranin,ayu pikirin lagi mateng2..reza tuh masih sayang banget ama ayu..sayang kan hubungan kalian yang udah lama jadi berantakan.. lagian aku juga udah tunangan kok

gw:(itu mah urusan lo udah tunangan apa belom)sebenernya si mba,aku juga pengennya serius sama reza,tapi kalo kejadiannya sama yang kaya tadi siang,mau diapain lagi.

sheila:ya terus gmna dong?

gw:ya ga kaya gmna2..

ga mikir apa nih cewe ya,lonya juga kegatelan ama reza masih punya muka minta maap lagi..

menurut gw,mau itu becanda atau ga,tetep aja itu namanya PENGKHIANATAN!


119
To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close